Home > Artikel, Ekskursi > Selat Bali oh Selat Bali

Selat Bali oh Selat Bali

Pulau Bali terhubung dengan Pulau Jawa melalui Selat Bali. Panjang selat ini kurang lebih 5 km. Karakteristik fisik Selat Bali diantarnya sempit, kedalaman tinggi, dan memiliki arus yang kuat, terutama di antara Ketapang dan Gilimanuk. Bentuk umumnya dari utara hingga selatan menyerupai corong (bottle neck). Di bagian selatan, dimana bertemu arus dari arah utara Selat Bali bertemu dengan arus Samudera Hindia, merupakan daerah perairan yang sangat subur. Di daerah ini dijumpai kelimpahan ikan Lemuru pada musim-musim tertentu yang menjadikan daerah ini menarik bagi para nelayan, khususnya nelayan asal Banyuwangi.

Daerah Ketapang – Gilimanuk merupakan titik penyeberangan Jawa – Bali. Fasilitas penyeberangan telah dibangun cukup memadai untuk melayani kebutuhan penyeberangan barang dan orang dari/ke Jawa – Bali. Di masing-masing lokasi terdapat tiga dermaga permanen dan beberapa dermaga semi permanen. Dermaga permanen diperuntukkan bagi kapal-kapal fery normal, sedangkan dermaga semi permanen diperuntukkan bagi kapal-kapal LCT.

Pantai Selat Bali bagian Pulau Jawa memiliki karakteristik yang berbeda dengan pantai Selat Bali bagian Palau Bali. Pantai di bagian Pulau Jawa umumnya berpasir hitam kecuali di daerah Alas Purwo yang memiliki pasir putih. Di titik-titik tertentu bahkan menjadi tujuan wisata favorit turis-turis mancanegara. Pantai di bagian Pulau Bali umumnya berpasir putih kecuali beberapa bagian di selatan Gilimanuk. Secara umum, panorama pantai di ke dua daerah cukup bagus.

Namun sayang, keindahan Selat Bali terkurangi dengan mudahnya ditemukan sampah, baik sampah organik maupun non-organik, baik di pantai maupun melayang-layang di air. Untuk sampah organik, kita tidak perlu terlalu cemas karena seiring waktu sampah ini akan terurai dan tidak berbahaya lagi dari sudut pandang lingkungan. Namun demikian, terlalu banyak sampah organik menjadikan perairan terlalu subur. Kondisi ini tidak selalu bagus bagi ekosistem perairan. Dampak yang lebih buruk dapat menimbulkan alga bloom yang bersifat racun bagi komponen ekositem lainnya. Untuk sampah plastik, kita perlu memberikan perhatian lebih khusus karena sampah jenis ini tidak dapat terurai dalam jangka waktu yang sangat lama. Sampah plastik dalam ukuran besar dapat menutupi sebuah permukaan ekosistem yang menjadikan ekosistem tersebut rusak.

Penangan sampah plastik memang harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembuat plastik hingga penggunanya. Pihak produsen harus berpikir keras untuk menggunakan plastik yang ramah lingkungan dan meminimalkan penggunaannya. Penekanan jumlah plastik yang digunakan misalnya dilakukan dengan memperkecil ukuran plastik yang digunakan. Di sisi lain, pihak pengguna dapat meminimalkan penggunaan plastik dengan cara menggunakannya untuk berbagai keperluan.

About these ads
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: