Sekarang, ENVI ada di dalam ArcGIS

March 8, 2011 Comments off

Bulan November kemaren, tepatnya 2 November 2010, ITT Visual Information Solutions mengeluarkan release ENVI terbaru versi 4.8. Wah…, mudah-mudahan semakin seru fungsi-fungsi yang ditawarkannya.

Saya mengenal ENVI sejak versi 3.1 sekitar tahun 1998 dengan fitur yang masih kaku dan belum banyak orang menyukainya. Saat ini, perangkat lunak pengolah data penginderaan jauh ini sangat populer, terutama di kalangan pegiat remote sensing di dalam negeri. Nah berikut ini saya coba korek fitur-fitur baru yang ditawarkan versi baru ini.

Fitur paling menarik adalah terintegrasikannya kemampuan ENVI dalam mengolah citra dalam perangkat lunak ArcGIS 9.3 dan ArcGIS 10. Kalihatannya ini ITT tidak mau kalah dengan ERDAS yang terlebih dulu meng-embed-kan diri ke dalam ArcGIS. Strategi ini wajar karena kebanyakan pengguna perangkat lunak pengolah citra adalah pengguna SIG yang salah satu sumber datanya berasal dari citra penginderaan jauh. Dengan terdapatnya fungsi pengolah citra dalam perangkat lunak SIG, tentu sangat menyenangkan mereka.

Terdapat sekitar 20 fungsi ENVI yang dapat diakses langsung dari ArcGIS, sehingga orang tidak perlu keluar dari ArcGIS untuk melakukan pengolahan citra. Fungsi-fungsi ENVI dapat diakses di ArcToolbox, seperti deteksi perubahan, klasifikasi, analisis kenampakan (viewshed analysis) dan mengidentifikasi anomali. Bagi pengguna ArcGIS Server juga dapat menggunakan ENVI for ArcGIS Server.

Advertisements

Backpaker-an Jakarta-Jogja-Bali

March 1, 2011 Leave a comment

Ada dua tipe ekstrim pelancong mengunjungi berbagai tempat di penjuru dunia. Tipe pertama, tipe luks sedangkan tipe ke dua, tipe backpacker. Tipe pertama menggunakan layanan wisata serwa wah; transportasi pesawat, hotel berbintang, makanan terjamin bergizi, Tipe ke dua menggunakan apa saja yang penting tujuan tercapai dengan harga yang murah meriah. Tulisan kali ini ingin berbagi dengan pembaca bagaimana menjadi backpaker dari Jakarta hingga Bali (Denpasar) melalui Jogjakarta.

Titik awal Jakarta diambil di Stasiun KA Senen, Jakarta Pusat. Di sini backpacker dapat membeli tiket KA Ekonomi Progo jurusan Jogjakarta seharga Rp. 35.000,-.  Berangkat setiap hari pukul 21.00 WIB. Hingga ke Jogja, kereta ini akan melalui beberapa stasiun, yaitu: Stasiun Jatinegara, Stasiun Bekasi, Stasiun Cikampek, Stasiun Pegadenbaru, Stasiun Cirebon, Stasiun Purwokerto, Stasiun Kroya, Stasiun Sumpiuh, Stasiun Gombong, Stasiun Karanganyar, Stasiun Kebumen, Stasiun Kutoarjo, Stasiun Jenar, Stasiun Wojo, Stasiun Wates, Stasiun Sentolo, dan Stasiun Patukan. Sampai di Jogja, Stasiun Lempunyangan, kurang lebih pukul 07.00 WIB, dapat lebih cepat dan juga lebih lambat tergantung musim.

Backpackers dapat istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi pada pukul 07.30 WIB atau dapat menginap semalam sambil menikmati Djogdja. Jika langsung melanjutkan perjalanan, silahkan membeli karcis KA Sri Tanjung, jurusan Banyuwangi melalui Surabaya (ST. Gubeng). Perjalanan akan menempuh waktu sekitar 15 jam. Sampai terakhir Banyuwangi antara pukul 10.00 hingga 11.00 WIB malam. Stasiun terakhir berlokasi tepat di depan Pelabuhan Penyebrangan Ketapang (agak geser sedikit sih..), jaraknya kurang lebih 500 m.

Jika mau intirahat sejenak, di depan pelabuhan, Backpackers dapat menikmati sajian khas Banyuwangi, Nasi Tempong, Bagiak atau nasi bungkus standar Indonesia.

Dari Ketapang, perjalanan ke Denpasar dilanjutkan dengan kendaraan Bus yang tersedia berbagai kelas, dari ekonomis hingga eksekutif. Tentu sebagai backpakers, memilih menggunakan bus kelas ekonomis yang melayani langsung Ketapang – Denpasar (Terminal Ubung) dengan ongkos 30 – 40 ribuan. Alternatifnya dapat menyeberang Selat Bali secara individu dengan ongkos 6 ribu, kemudian melanjutkan perjalanan Gilimanuk – Denpasar menggunakan angkutan lokal dengan ongkos antara 20 ribu hingga 30 ribu. Perjalanan dengan bus lokal ini hanya tersedia siang hari (mulai subuh). Waktu yang dibutuhkan hingga sampai Denpasar berkisar 3 jam hingga 5 jam.

…..Selamat datang di Denpasar, Backpackers!
Sampai di sini berarti Backpackers telah sampai di Denpasar (dari Jakarta) dengan ongkos 35 + 35 + 30 = 100 ribu.

Semoga bermanfaat!

Selat Bali oh Selat Bali

February 28, 2011 Leave a comment

Pulau Bali terhubung dengan Pulau Jawa melalui Selat Bali. Panjang selat ini kurang lebih 5 km. Karakteristik fisik Selat Bali diantarnya sempit, kedalaman tinggi, dan memiliki arus yang kuat, terutama di antara Ketapang dan Gilimanuk. Bentuk umumnya dari utara hingga selatan menyerupai corong (bottle neck). Di bagian selatan, dimana bertemu arus dari arah utara Selat Bali bertemu dengan arus Samudera Hindia, merupakan daerah perairan yang sangat subur. Di daerah ini dijumpai kelimpahan ikan Lemuru pada musim-musim tertentu yang menjadikan daerah ini menarik bagi para nelayan, khususnya nelayan asal Banyuwangi.

Daerah Ketapang – Gilimanuk merupakan titik penyeberangan Jawa – Bali. Fasilitas penyeberangan telah dibangun cukup memadai untuk melayani kebutuhan penyeberangan barang dan orang dari/ke Jawa – Bali. Di masing-masing lokasi terdapat tiga dermaga permanen dan beberapa dermaga semi permanen. Dermaga permanen diperuntukkan bagi kapal-kapal fery normal, sedangkan dermaga semi permanen diperuntukkan bagi kapal-kapal LCT.

Pantai Selat Bali bagian Pulau Jawa memiliki karakteristik yang berbeda dengan pantai Selat Bali bagian Palau Bali. Pantai di bagian Pulau Jawa umumnya berpasir hitam kecuali di daerah Alas Purwo yang memiliki pasir putih. Di titik-titik tertentu bahkan menjadi tujuan wisata favorit turis-turis mancanegara. Pantai di bagian Pulau Bali umumnya berpasir putih kecuali beberapa bagian di selatan Gilimanuk. Secara umum, panorama pantai di ke dua daerah cukup bagus.

Namun sayang, keindahan Selat Bali terkurangi dengan mudahnya ditemukan sampah, baik sampah organik maupun non-organik, baik di pantai maupun melayang-layang di air. Untuk sampah organik, kita tidak perlu terlalu cemas karena seiring waktu sampah ini akan terurai dan tidak berbahaya lagi dari sudut pandang lingkungan. Namun demikian, terlalu banyak sampah organik menjadikan perairan terlalu subur. Kondisi ini tidak selalu bagus bagi ekosistem perairan. Dampak yang lebih buruk dapat menimbulkan alga bloom yang bersifat racun bagi komponen ekositem lainnya. Untuk sampah plastik, kita perlu memberikan perhatian lebih khusus karena sampah jenis ini tidak dapat terurai dalam jangka waktu yang sangat lama. Sampah plastik dalam ukuran besar dapat menutupi sebuah permukaan ekosistem yang menjadikan ekosistem tersebut rusak.

Penangan sampah plastik memang harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembuat plastik hingga penggunanya. Pihak produsen harus berpikir keras untuk menggunakan plastik yang ramah lingkungan dan meminimalkan penggunaannya. Penekanan jumlah plastik yang digunakan misalnya dilakukan dengan memperkecil ukuran plastik yang digunakan. Di sisi lain, pihak pengguna dapat meminimalkan penggunaan plastik dengan cara menggunakannya untuk berbagai keperluan.

Ber-Canoe di Pantai Semawang, Sanur

January 30, 2011 Leave a comment

Tulisan ini dibuat berseri, dengan tema utama adalah aktifitas wisata yang dapat dilakukan di Kawasan Wisata Sanur, Bali

Sanur, adalah kawasan wisata pantai di Bali, terkenal ke dua setelah Kuta. Sanur masih merupakan bagian Kota Denpasar, tepatnya Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan. Pantai Sanur berjarak kurang lebih 3 km arah timur Kota Denpasar. Setiap pagi orang dapat menikmati indahnya matahari terbit (sun-rise) kira-kira pukul 6.00 – 7.00 pagi. Dari Terminal Ubung, Sanur dapat dicapai dengan Bemo (sejenis angkot) dengan satu kali transit di Terminal Kreneng. Dari Ubung naik warna krem, dilanjutkan warna hijau atau biru dari Kreneng. Biaya satu kali naik Bemo sekitar 5.000 rupiah. Selain Bemo, dapat digunakan taksi atau ojek (30-an ribu rupiah) untuk sampai di Pantai Sanur.

Kawasan Sanur memiliki beberapa pantai, diantaranya (dari utara) Pantai Padang Galak, Pantai Matahari Terbit, Pantai Sanur, Pantai Sindu, Pantai Karang, Pantai Semawang, dan pantai Mertasari. Dari Padang Galak hingga Sanur (tepatnya sebelah utara jetty helipad) umumnya pasir berwarna hitam karena ada masukan sedimentasi dari Yeh (Sungai) Ayung. Sementara dari Sanur (sebelah selatan jetty helipad) hingga Mertasari memiliki pasir pantai coklat/putih dengan butir-butir pasir yang agak kasar.

Olahraga favorit bagi wisatawan dalam negeri di Sanur adalah main Kano (canoing), sebuah perahu kecil terbuat dari fiber yang hanya berkapasitas 1 orang dewasa. Pantai yang paling cocok untuk bermain kano adalah Pantai Semawang, karena ombaknya relatif tenang, dan arealnya cukup luas. Kedalaman untuk main Kano rata-rata 1.5 m, jadi gak akan tenggelam jika jatuh dari Kano. Di samping itu banyak terdapat parahu-perahu wisata yang berlabuh di pantai ini yang menambah  obyek pemandangan.

Ongkos sewa per Kano sebesar Rp. 10.000,- dengan waktu yang tidak dibatasi. Boleh nyoba nawar, tapi jangan kecewa jika tidak berhasil, soalnya banyak yang bernasib seperti ini. Bermain Kano sangat menyenangkan; dapat dilakukan sendiri, dengan keluarga (anak) atau dengan kolega secara berlomba.

Mau ber-Kano?…
Ajax-ajax ya!

Zwolle, Sudut Keindahan Negeri Belanda

January 30, 2011 Leave a comment

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah tulisan di internet tentang keraguan penulis ‘apakah benar Bangsa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun’.  Jika direnungkan, kok begitu lemahnya Bangsa Indonesia ini jika benar itu terjadi. Atau itu hanya sebuah jargon untuk melemahkan, menganggap remeh Bangsa Indonesia ini yang sebenarnya dapat menjadi Bangsa yang besar. Saya tidak akan mengajak pembaca pada topik ini lebih lanjut, tapi justru ingin mengajak pembaca mengintip salah satu sudut Negeri Belanda, Kota Zwolle.

Tahun 2008, saya berkesempatan untuk jalan-jalan di Zwolle dalam rangkaian kunjungan lapangan salah satu mata kuliah pengelolaan sumberdaya alam. Kota Zwolle adalah ibu kota Provinsi Overijssel, provinsi di bagian tengah-timur Belanda. Memasuki Kota Zwolle tidak begitu berbeda dengan kota-kota lain di Belanda. Tidak ditemui bukit-bukit apalagi gunung. Semuanya datar, bahkan ada beberapa wilayah yang terletak di bawah permukaan air laut. Salah satu sudut kota terdapat kawasan wisata, seperti natuur monumenten. Di kawasan ini terdapat alur-alur/parit besar maupun kecil dengan ketinggian air yang hanya silisih beberapa centimeter (-/+ 30 cm) dengan permukaan tanah. Bisa dibayangkan jika hujan lebat, akan sangat mudah meluap dan membanjiri kawasan tersebut. Namun, bukan Belanda jika tidak dapat mengatasi ancaman tersebut. Di beberapa titik tertentu terdapat pintu-pintu air, besar maupun kecil, yang kelola oleh badan khusus air, yang mengatur tinggi muka air permukaan. Salah satu pintu air yang besar terdapat di Zwolle yang membentengi wilayah Zwolle dari genangan air laut. Ukurannya sangat besar karena harus manahan tekanan air laut yang juga sangat besar. Selama ini, sangat jarang dijumpai kasus-kasus banjir di Negeri Belanda.

Diantara pemandangan yang unik eksentrik di kawasan ini adalah sebuah pohon besar yang daun-daunnya sudah habis berjatuhan mengotori permukaan air kanal, tetap tegak berdiri di samping rumah tua khas Belanda. Pohon ini tampak berbatang dan berkanopi ganda akibat pantulan sempurna yang diberikan oleh air kanal yang bergerak tenang, tidak mengandung bahan-bahan polutan, meskipun tidak sejernih air pegunungan. Rasanya enak, nyaman memandangi fenomena jarang di negeri sendiri sambil menghirup secangkir kopi khas Belanda di warung kopi dekat pohon besar ini. Sebagai teman ngopi, bisa dipilih roti atau kacang-kacang goreng yang terasa nikmat (karena kelaparan nih…). Jarang sekali warung-warung khas Belanda menyediakan makanan berat di siang hari bolong, apalagi mie-instan. Kagak bakalan nemuin.

Sudut lain yang cukup nyaman untuk bersantai di sore hari adalah kawasan pantai yang sudah ditata sedemikian rupa. Secara horisontal, pantai tersusun dari pasir, kemudian batu-batu tebing pantai, jalan konblok, tebing dengan rerumputan dan terakhir permukiman. Di beberapa sudut terdapat tempat duduk yang tidak ada orang mau mendudukinya di musim dingin, karena saking dinginnya. Olah raga joging dapat dilakukan di tempat ini walau di waktu tengah hari karena cuaca cukup bersahabat, khususnya di musim panas. Ketika musim dingin jangan banyak berharap untuk bersantai-santai dalam waktu yang lama di pantai ini.

Kapan lagi ya bisa ke sana?

ArcGIS – Membuat Album Peta Serial

January 30, 2011 Leave a comment

Dalam pekerjaan pemetaan, seringkali kita diminta untuk membuat peta dengan skala yang cukup besar, mencakup seluruh wilayah kajian, dan tidak mungkin dibuat/dicetak pada satu lembar kertas saja, meskipun ukuran A0. Contoh kasusnya adalah pembuatan Peta Pola Ruang Kabupaten Buleleng, Bali pada skala 1:50.000. Untuk mencakup seluruh wilayah kabupaten ini, diperlukan 7 lembar peta skala 1:50.000. Peta pada skala ini membutuhkan kertas minimal ukuran 65 cm x 80 cm, atau ukuran A1 lebih sedikit. Untuk amannya memang menggunakan kertas ukuran A0, tetapi akan terdapat sisa kertas yang cukup banyak. Praktisnya, buat saja ukuran custom untuk meminimalkan kertas yang terbuang.

Untuk mendapatkan 7 lembar peta dengan layout yang sama persis, dapat dilakukan secara manual maupun otomatis. Secara manual, dilakukan dengan terlebih dahulu membuat satu layout hingga selesai, kemudian menduplikasinya dan isi petanya diganti dengan wilayah di sampingnya. Cara demikian mungkin dapat dilakukan jika jumlah lembar peta yang dibutuhkan cuma sedikit. Jika jumlah lembar petanya banyak, tentu akan sangat merepotkan. Nah saat ini sudah tersedia perangkat tambahan dalam ArcGIS/ArcMap untuk membuat peta serial secara otomatis. Untuk dapat menggunakan perangkat ini, terlebih dulu harus diinstall perangkat tambahan – DS-MapBook. Klik link ini untuk mengunduh dan menginstallnya.

Ke depan, saya akan mencoba membuatkan tutorialnya.

Katalog Scene Citra ALOS

January 28, 2011 3 comments

Beberapa waktu lalu, saya kesulitan untuk mencari/menghitung berapa scene Citra ALOS yang dibutuhkan untuk meliput daerah penelitian saya. Waktu ini saya hanya mendapatkan katalog/indeks scene Citra ALOS dari blognya Pak Fahmi Amhar (Bakosurtanal). Sayang, beliau hanya memberikan indeks scene Citra ALOS perekaman tahun 2006/2007. Perekaman terbaru dan satu tahun terakhir tidak tersedia, padahal posisi scene Citra ALOS dapat mengalami pergeseran dari waktu ke waktu.

Dari pencarian di dunia maya, akhirnya saya mendapatkan indeks lengkap liputan Citra ALOS untuk Indonesia hingga perekaman terbaru. Beruntungnya lagi, indeks tersebut sudah dalam format shapefile yang siap dioverlay dengan batas wilayah kajian kita. Dengan demikian akan sangat mudah menghitung dan memilih scene Citra ALOS yang kita inginkan.

Mau mendapatkannya?
Sementara ini, saya baru bisa upload indeks Citra ALOS tahun 2008 hingga 2011 untuk wilayah ‘tim lesser sunda’ – Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT). Linknya di sini untuk mengunduhnya.

Indeks untuk daerah lain segera menyusul.